Jendela Malang Raya | Kamis Pon, 25 Desember 2014
Home Kabar Berita Kanjuruhan Terus Terang, Awalnya Takut....
Suster Katolik Pagelaran di Lingkar Pesantren
PDF Print E-mail
Terus Terang, Awalnya Takut....
Sabtu, 22 Oktober 2011 22:07

helloMALANG-gereja_pegelaran

Ada yang menarik dari kegiatan pertemuan Forum Komunikasi Ulama dan Umaro (FORKUMA) di Desa Pagelaran Kecamatan Pagelaran Kabupatan Malang Jumat (21/11). Selain diselenggarakan di sebuah gedung bekas gereja yang kini berubah fungsi menjadi sebuah aula klinik layanan kesehatan Katolik Ibu dan Anak Miryam.

Acara jamuan makan siangnya pun disediakan para suster klinik. Kini, merupakan sebuah pemandangan langka. Para suster yang berpakaian putih-putih khas seragam biarawati nampak sibuk mondar-mandir dan melayani acara santap siang yang mayoritas pesertanya laki-laki berpeci khas muslim. Suasana akrab dan kekeluargaan yang sangat kental menunjukkan tidak adanya sekat sosial antara para pelayan Katolik dan para penganut muslim di desa yang tahun 1998 lalu sempat terkenal karena peristiwa sadis "ninja" yang memakan korban jiwa itu.

..................................

"Bagi kami, diberi kepercayaan untuk menjadi tuan rumah pada pertemuan para ulama adalah suatu kehormatan. Karena kami semua adalah saudara, keluarga. Sebagaimana warga sini (Pagelaran) yang sudah menerima dengan baik kehadiran kami. Maka kami pun juga ingin sebaik mungkin menempatkan diri," ungkap Suster Maria, suster paling senior klinik Miryam.

Diakui Maria, awalnya dia memang sempat takut sewaktu diminta Kongregasi Suster Hati Kudus Lampung yang sekaligus menjadi induk layanan kesehatan klinik Miryam untuk ditempatkan di Pagelaran.

"Memang saya sempat takut dan ragu. Apalagi setelah mendapatkan informasi bahwa di desa tujuan, mayoritas penduduknya muslim. Tapi karena saya berkeyakinan bahwa niat yang baik akan mendapatkan sambutan yang baik pula, maka akhirnya saya pun bersedia ditempatkan di sini. Dan ternyata benar .. warga sini menyambut kehadiran kami dengan sangat baik, layaknya keluarga sendiri," tutur suster Maria.

helloMALANG-suasana_pertemuan_di_bekas_gerejaKeinginan suster Maria untuk berbaur dengan masyarakat setempat, dia tunjukkan dengan kehadiran di sejumlah kegiatan warga. Bahkan dalam kegiatan tahlilan sekali pun. "Sebisa mungkin saya akan menghadiri setiap kegiatan yang diselenggarakan warga, termasuk dalam acara pengajian dan tahlil. Tidak ada keraguan sama sekali dalam hati saya untuk mengikuti kegiatan seperti itu," tambahnya.

Padahal, diakui suster yang dalam bertugas di klinik Miryam dibantu dua orang suster, yakni suster Brigitta dan suster Theresiana itu, jumlah penganut Katolik di Kecamatan Pagelaran tak lebih dari satu keluarga. "Tapi kembali lagi, kehadiran kami di sini, memang murni atas dasar pengabdian. Sama sekali kami tidak melihat agamanya, tapi melihat kesamaan kita sebagai manusia,"paparnya.

Berdasarkan sejarah, klinik kesehatan Miryam yang kini berfungsi sebagai tempat pertemuan Forkuma dan tempat layanan kesehatan, berdiri tahun 1928 lalu. Tepatnya pada zaman penjajahan Belanda. Namun sejak zaman penjajahan Jepang, terjadi pemindahan besar-besaran warga oleh Jepang. Sehingga dalam jangka waktu lama, gereja vakum.

helloMALANG-suasana_pertemuan_Forkuma_Kec_pagelaranHingga pada tahun 2006 silam, dalam misi pelayanan, gereja yang sudah ditinggalkan jemaatnya itu, dialihfungsikan menjadi klinik kesehatan ibu dan anak. Seiring kebutuhan kesehatan masyarakat setempat yang terus meningkat, klinik ini pun menjadi tujuan utama warga sekitar. Bahkan, kini, klinik telah memiliki fasilitas 3 ruang bersalin. "Semua kegiatan klinik ini berpusat di Kongregasi Suster Hati Kudus Lampung.Termasuk semua perlengkapan dan fasilitas yang ada," terangnya.

Meski demikian, untuk kegiatan yang sifatnya program pemerintah, seperti pemberian imunisasi, klinik bekerjasama dengan pihak Puskesmas. Kerjasama ini, terutama terkait dengan serum atau obat standar yang ditetapkan pemerintah."Sedangkan yang lain-lain, murni dari pusat layanan kami di Lampung," tambah suster Maria.

Karena misi utama adalah layanan umat, klinik Maryam sama sekali tidak menetapkan tarif. "Kami tidak ada charge ..terserah pasien mau memberi atau bahkan, kalau memang benar-benar tidak mampu, tidak memberi. Semua tidak jadi masalah karena semua kegiatan di klinik ini, sampai sekarang masih ditopang pusat layanan kami di Lampung," katanya.


helloMALANG-ramahtaman_Forkuma_PagelaranProfit, bukan tujuan klinik. "Tapi sekali lagi, kerjasama dan sikap masyarakat sini yang sangat terbuka menerima kehadiran kami, sudah menjadi satu yang luar biasa. Sehingga kami merasa benar-benar menjadi saudara yang rela setiap saat saling melayani dan membantu. Karena sebenarnya dari dulu memang tidak alasan yang bisa membuat kita, orang yang berbeda agama saling bertikai dan bertengkar," pungkasnya.
helma-01

 

 

helloMALANG-_Suster__Klinik_Miryam__bersama_pastus_dan_warga_Pagelaran

 

Add comment

1. Anda, sebagai pribadi atau lembaga yang berkaitan langsung atau merasa dirugikan oleh isi dari surat pembaca ini kami persilahkan memberikan tanggapan.
2. Redaksi berhak tidak menayangkan atau menghapus tanggapan yang kurang sopan, berbau SARA, menghasut, menghina salah satu pihak dan melanggar perundang-undangan Republik Indonesia.


Security code
Refresh

Advertisement
  • Terkini
  • Terpopuler